PERBEDAAN DATA DAN INFORMASI

 

Mengembangkan Kualitas dan Layanan Perpustakaan Berbasiskan Teknologi Informasi

 

Tak bisa dipungkiri lagi, perkembangan Teknologi Informasi (selanjutnya disebut TI) telah maju sangat pesat. Semua bidang kehidupan hampir tidak ada lagi yang tidak mendapat sentuhan “keajaiban” TI. Para futuristik pun berlomba membuat ramalan-ramalan. Ada yang meramalkan bahwa konsumsi kertas diperkantoran akan semakin sedikit (paperless). Ada juga sosiolog yang meramalkan hubungan antar manusia akan semakin renggang karena makin tingginya interaksi antara manusia dengan komputer.

 

Tapi fakta yang kemudian terjadi, World Wide Web ternyata masih belum menggantikan media cetak. Penggunaan kertas justru makin meningkat karena sebagian besar orang mem-print dulu artikel yang hendak dibaca. Industri majalah bahkan semakin subur. Dunia dijital ternyata juga belum mampu membuat manusia menjadi mesin-mesin mekanis dan terisolasi dalam dunia mesin. Yang terjadi justru sebaliknya. Makin banyak terbentuk komunitas pembelajar dengan interes yang sama dan saling berbagai pengetahuan dalam media-media elektronik seperti mailing list dan chat room.

 

Sebuah riset dari The Pew Internet & American Life Project mendapati 26 juta warga Amerika menggunakan e-mail untuk meningkatkan intensitas berkomunikasi dengan anggota keluarga yang tinggalnya berjauhan. “Banyak orang yang hampir melupakan arti persahabatan tiba-tiba menjadi intim kembali dengan e-mail”, kata Adam Gopnik dalam artikelnya di The New Yorker.

 

Disisi lain, akses untuk mendapatkan informasi semakin mudah. Sehingga muncul buzzword baru seperti ledakan informasi (information explosion). Tapi sebagian orang mengatakan yang terjadi bukanlah ledakan informasi tetapi hanya ledakan non-informasi atau sesuatu yang tidak memberikan informasi apa-apa (stuff that simply doesn’t inform). Informasi saja tanpa alat dan pola yang tepat tidak akan berguna. Informasi saja tidak cukup. Web tidak akan memecahkan masalah yang dihadapi manusia, tetapi manusia yang terus belajar yang mampu memanfaatkan informasi dan memecahkan masalahnya sendiri.

 

Dari sini kemudian banyak pengamat kembali mengangkat betapa pentingnya pembelajaran bagi tiap orang yang menggunakan informasi. Hasil akhir pemanfaatan TI bagi manusia bukanlah hanya kemudahan dalam temu kembali informasi, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana menciptakan lingkungan pembelajaran (learning environment) dan membuat manusia yang terlibat didalamnya menjadi manusia-manusia pembelajar seumur hidup (long-life learners). Maka kemudian mulai populer konsep-konsep seperti knowledge management disamping information management yang telah muncul lebih dulu.

 

Bertolak dari konsep ini, tulisan ini mencoba membahas kompetensi pustakawan dan perpustakaan dalam hubungannya dengan pemanfaatan TI di perpustakaan agar memudahkan perubahan fungsi perpustakaan dari sebuah pusat informasi menjadi suatu lingkungan pembelajaran bagi pemakai.

Manajemen Informasi dan Manajemen Pengetahuan

 

Pembahasan tentang kompetensi perpustakaan dan pustakawan di era kemajuan TI, harus dimulai dengan pemahaman bersama terlebih dulu tentang Manajemen Informasi (selanjutnya disebut MI) dan Manajemen Pengetahuan (MP). Kenapa? Karena pada dua domain inilah kompetensi-kompetensi utama perpustakaan dan pustakawan ada.

 

Untuk mulai membahas MI dan MP, maka dimulai dengan terlebih dulu membahas perbedaan antara apa yang dimaksud dengan Informasi (Information) dan Pengetahuan (Knowledge).

 

F.N. Teskey, seperti dikutip oleh Pendit (1992), memberikan model:

 

Data è Informasi è Pengetahuan

 

Data merupakan hasil pengamatan langsung terhadap suatu kejadian atau suatu keadaan; ia merupakan entitas yang dilengkapi dengan nilai tertentu.

 

Informasi merupakan kumpulan data yang terstruktur untuk memperlihatkan adanya hubungan antar entitas.

 

Pengetahuan merupakan model yang digunakan manusia untuk memahami dunia, dan yang dapat diubah-ubah oleh informasi yang diterima pikiran manusia.

 

Model yang hampir sama juga diusung oleh Powell (2003). Menurut Powell, Data adalah koleksi terstruktur dari kumpulan fakta (structured collection of quantitative facts), Informasi adalah data atau fakta dengan arti (data or facts with meaning) dan Pengetahuan merupakan hasil atau keluaran atau nilai dari informasi (producing significance or value from information).

 

Model lain yang mirip juga dikemukakan Nathan Shedroff, seperti dikutip oleh Wurman (2001). Bahkan Shedroff menambahkan satu lagi tahap sesudah pengetahuan, yaitu Kebijakan (Wisdom).

 

Data è Informasi è Pengetahuan è Kebijakan

 

Menurut penulis, model Data è Informasi è Pengetahuan (kita namakan saja DIP) diatas mempunyai beberapa kelemahan.

 

Pertama, bagi model diatas, data dianggap sesuatu yang bebas nilai. Artinya, interpretasi proses pengambilan (capture) suatu fakta menjadi data, dianggap tidak mengandung muatan apa-apa sampai ia diinterpretasikan menjadi informasi. Bagi para sosiolog aliran konstruksionis, definisi data seperti diatas tidak tepat. Bagi mereka, fakta tidak dibentuk secara ilmiah, tetapi merupakan sesuatu yang dibentuk atau dikonstruksi. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu fakta. Tergantung pada pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu. Berarti, sudah ada proses interpretasi manusia melalui pengetahuan sebelumnya dalam mengumpulkan data (Eriyanto, 2002).

 

Kedua, Model diatas tidak diatas tidak memberikan batasan dengan jelas kapan sesuatu itu dianggap informasi, kapan sesuatu itu sudah bisa dianggap pengetahuan. Kalau kita mendapat pesan bahwa “Air yang dipanaskan pada suhu mendidih 100 derajat celcius bisa mematikan kuman. Dan bila kuman tersebut mati maka penyakit kolera akan sulit berkembang”, apakah ini suatu informasi atau pengetahuan? Batasannya sangat tidak jelas.

 

Dengan alasan-alasan diatas, penulis menawarkan model lain dalam membedakan antara Informasi dan Pengetahuan. Yaitu:

 

1.  Informasi adalah sesuatu yang kita bagi melalui beragam media komunikasi yang ada (Information is something that we share).

 

2.  Pengetahuan adalah sesuatu yang masih ada didalam pikiran kita (Knowledge is something that is still in our mind).

 

3.      Informasi sama dengan pengetahuan yang dibagi atau telah dikomunikasikan melalui berbagai media yang ada (Information is shared knowledge).

 

Dengan pembedaan yang lebih jelas antara Informasi dan Pengetahuan, maka selanjutnya kita mulai definisikan MI dan MP.

 

Manajemen Informasi adalah tehnik pengaturan atau organisasi agar informasi (shared knowledge) mudah dicari dan gunakan kembali oleh pemakai. Yang termasuk dalam proses manajemen informasi antara lain: pengumpulan informasi, pengolahan informasi, kemas ulang informasi, temu kembali informasi.

 

Sedangkan Manajemen Pengetahuan adalah tehnik membangun suatu lingkungan pembelajaran, dimana orang-orang didalamnya mau terus belajar, memanfaatkan informasi yang ada, serta pada akhirnya mau berbagi pengetahuan baru yang didapat. Yang termasuk dalam proses manajemen pengetahuan antara lain: pembelajaran (individu, organisasi, kolaborasi) dan berbagi (sharing) pengetahuan.

PERBEDAAN DATA DAN INFORMASI

1.      DATA

 

Secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

  • Data adalah bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti “sesuatu yang diberikan”. Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra.

 

  • Data adalah deskripsi dari sesuatu dan kejadan yang kita hadapi (data is the description of things and events that we face).

 

  • Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. Kejadian (event) adalah sesuatu yang terjadi pada saat tertentu. Sebagai contoh, pendapatan Telkom salah satunya adalah pemakaian telepon dari pelanggan yang disimpan dalam bentuk AMA oleh Telephone Exchange dan setiap bulannya diolah menjadi suatu nilai-nilai tertentu yang akan ditagihkan ke pelanggan tersebut. Kesatuan nyata (fact and entity) adalah berupa suatu obyek nyata seperti tempat, benda dan orang yang betul-betul ada dan terjadi.

 

  • data adalah informasi yang disimpan yang dapat sewaktu – waktu di gunakan oleh penggunannya

 

  • Data Terdiri dari fakta-fakta dan angka-angka yang secara relatif tidak berarti bagi pemakai

 

Sumber dari informasi adalah data. Data merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal data-item. Data merupakan bentuk yang belum dapat memberikan manfaat yang besar bagi penerimanya, sehingga perlu suatu model yang nantinya akan dikelompokkan dan diproses untuk menghasilkan informasi.

 

2.      INFORMASI

 

Definisi informasi adalah :

data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang

menerimanya.

 

Informasi diartikan sebagai hasil pe-ngolahan data yang digunakan untuk suatu keperluan, sehingga penerimanya akan mendapat rangsangan untuk melakukan tindakan.

 

Informasi merupakan Data yang sudah diproses, Data yang sudah memiliki makna serta Data yang ditempatkan pada suatu konteks.

 

Sudah banyak literatur yang meyakinkan kita, betapa pentingnya data dan informasi. Salah satunya, sebuah buku yang ditulis tahun 1949 bertitel Mathematical Theory of Communications. Informasi, begitu tulis buku itu, merupakan “hal yang mengurangi ketidakpastian”. Bila demikian, maka “abad informasi” yang dahsyat sekarang sebetulnya suatu ledakan non-informasi. Suatu ledakan data – apa yang takkan dikatakan kepada Anda oleh internetmania – ialah bahwa internet merupakan lautan data yang belum disunting, tanpa suatu pretensi kelengkapan apa pun juga. Artinya, ia hanya sekadar “data”. Karena ia hanya “record” sesuatu. Misalnya, data penjualan, data transaksi, laporan tahunan, dan sejenisnya.

 

Akan halnya informasi, harus bermuara pada “pemahaman”. Artinya, apa yang menjadi informasi bagi seseorang barangkali hanya merupakan data bagi orang lain. Apabila sesuatu tidak masuk akan bagi Anda, maka sesuatu tersebut bukanlah informasi.

 

Informasi akan menjadi pengetahuan, bila ia dapat dipahami, diinterpretasi, dan diaplikasi. Dalam “pengetahuan”, terjadi proses internalisasi informasi yang menggabungkan faktor keyakinan, motivasi, dan komitmen. Kita tak pernah “tahu” tentang “sesuatu”, sampai ia dapat dievaluasi, diterima oleh keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut. Pada saat inilah, pengetahuan menjadi “kekuatan” (powerful).

 

Sumber

www.google.com

http://hendrowicaksono.multiply.com/journal/item/8

kumoro.staff.ugm.ac.id/wp-content/ uploads/2007/09/data-dan-informasi.pdf –

prabu.wordpress.com/2006/02/13/data-dan-informasi/ – 54k

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.